ISO 9001:2015 - QS 4955

Atlet Perlu Rumah Sakit Khusus

  • Senin, 23 April 2018

Atlet sangat perlu rumah sakit khusus untuk atlet. Mengingat tidak semua rumah sakit fokus melayani atlet. Kalau ingin memajukan olahraga di Indonesia, misalnya menyambut Asian Games 2018 agustus nanti, maka sangat penting keterlibatan Rumah Sakit Olahraga Nasional (RSON). Rumah Sakit ini didirikan Kemenpora khusus untuk atlet dan masyarakat umumnya. Atlet taekwondo jurus poomsae, Maulana Haidir mengatakannya saat datang ke RSON, baru baru ini. 

Atlet taekwondo yang hobi nonton bioskop ini menyarankan, jangan menunggu sakit atau cedera baru datang ke RSON. Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, sebaiknya  atlet rutin melakukan Medical Check Up (MCU) di RSON. Misalnya pemeriksaan kestabilan otot dan keseimbangan geraknya. 

Berbeda dengan diluar negeri, misalnya di 
Taiwan dan Hongkong, yang sudah memiliki semacam laboratorium olahraga. Laboratorium itu dilengkapi  dengan rumah sakit khusus untuk atlet. Semoga kedepan RSON lebih ditingkatkan fungsinya. Mengingat, belum semua atlet memanfaatkan RSON. 

Maulana kenal RSON sejak tahun 2012, ketika Pelatnas taekwondo pindah ke Cibubur. Sebelum di Cibubur, Pelatnas taekwondo sempat 6 bulan di Cipayung, kemudian pindah ke cibubur. Karenanya atlet taekwondo sudah biasa berobat ke RSON.

Atlet taekwondo jurus poomsae ini rajin melakukan fisioterapi untuk memulihkan cederanya. Peraih emas di Asian Indoor and Martial Art Games (AIMAG) 2017 di Turkmengistan ini, mengalami cedera di lutut saat berlaga di Sea Games 2017 di Malaysia. Cedera ini tidak cukup pemulihannya. Tapi lanjut berlaga di Asian Indoor and Martial Art Games (AIMAG) 2017 di Turkmengistan. Saat bertanding di babak  final, cedera makin nyeri. Jadi mengganggu konsentrasi. Meskipun sudah istirahat, icing, massage dan fisioterapi, belum pulih juga cedera. 

Saat latihan malah cedera bertambah lagi di pergelangan kaki. Bahkan sambil digendong dibawa ke RSON, karena kaki tidak bisa memijak tanah. Akibatnya, Maulana harus semakin rajin fisioterapi sambil tetap latihan, tanpa memperparah kaki yang  cedera. Mengingat cederanya makin parah. Yaitu cedera di lutut dan pergelangan kaki. 

Sebagai atlet, peraih perak di Sea Games tahun 2017  di Malaysia ini merasa kapok jangan sampai cedera lagi. Jadi sekarang harus sembuh total dulu baru latihan sempurna lagi. Terutama menghilangkan trauma psikis karena cedera. Trauma menimbulkan keraguan untuk latihan sempurna. Nyeri lutut memecahkan konsentrasi latihan. Sementara ini  tetap latihan sambil mengistirahatkan anggota tubuh yang cedera. 

Maulana mulai jadi atlet pelatnas taekwondo jurus poomsae  sejak 2010. Sebelumnya atlet pelatda kota bogor. Maklum Maulana berasal dari Bogor. Adalah pamannya yang mula - mula mengajak latihan taekwondo saat Maulana kelas 3 SD di Bogor. Saat kelas 2 SMP, taekwondo  sudah menjadi  hobinya. Hingga akhirnya memutuskan ingin menjadi   atlet taekwondo. Sudah sering mengikuti pertandingan taekwondo tingkat daerah. Sebelumnya atlet taekwondo jurus kyorugi. Namun tahun 2008 Maulana memutuskan pindah jurus poomsae (tanpa body contact). 

Lulusan fakultas Ekonomi  STIE Dharma Agung Bandung tahun 2014 ini, kelak ingin jadi pelatih. Untuk mendukung cita - citanya ini, Maulana ingin kuliah di jurusan olahraga. Karena tidak selamanya bisa menjadi atlet. Suatu saat harus pensiun.

Tahun ini ada target khusus yaitu meraih prestasi di Asian Games 2018. Setelah itu tetap latihan maksimal. Sambil mempersiapkan diri menjadi pelatih. Maulana optimis mampu jadi pelatih. Antara lain sudah banyak pengalaman sejak menjadi atlet pelatda di Bogor hingga menjadi atlet pelatnas. Namun diakui dirinya belum banyak mengerti bagaimana menjadi pelatih yang baik. Apalagi untuk taekwondo  jurus poomsae di Indonesia, belum ada pelatihnya yang berasal dari atlet. Jurus poomsae terbilang masih baru. Di dunia baru tahun 2006 jurus poomsae mulai dipertandingkan. Sedangkan di Indonesia jurus Poomsae baru tahun  2009 dipertandingkan. 

Maulana mengajak atlet - atlet taekwondo agar sabar, belajar terus dan latihan terus. Artinya latihan dan hasil pertandingan harus terus dievaluasi dan dipelajari dimana kekurangan dan kelebihannya. Bukan sekedar latihan dan ikut bertanding saja. Kedewasaan dalam latihan dan bertanding membuat atlet matang.