ISO 9001:2015 - QS 4955

RSON membuka Poli Kedokteran Olahraga

  • Kesehatan
  • Senin, 05 Februari 2018

Sejak Januari 2018 Rumah Sakit Olahraga Nasional (RSON) membuka poliklinik integrasi dengan dokter spesialis Kedokteran Olahraga. Untuk tahap awal, selama tiga bulan kedepan, para dokter spesialis kedokteran olahraga praktek hari Selasa dan Kamis jam 09.00 - 13.00. Alur pelayanan dimulai pasien pertama kali berobat ke dokter umum. Kemudian bila diperlukan dokter umum akan merujuk pasien ke dokter spesialis kedokteran olahraga. Dr. Donny Kurniawan Sp.KO, salah satu dokter spesialis kedokteran olahraga memberitahukan, bahwa kelak mereka siap praktek setiap hari di RSON.

Dr. Donny Kurniawan Sp.KO saat stase di RSON sudah melihat potensi untuk mendirikan poli kedokteran olahraga di rumah sakit ini. Namun dokter Lulusan FK Universitas Tarumanegara tahun 2008 ini mengingatkan, bahwa poli kedokteran olahraga harus terintegrasi dengan poli dokter spesialis lain. Misalnya dokter spesialis penyakit dalam, kebidanan dan kandungan, mata dan orthopedi.  Yang tak kalah pentingnya adalah kebutuhan akan  standarisasi, misalnya akreditasi. Dokter ini yakin RSON dapat mengembangkan pelayanan terintegrasi untuk atlet dan masyarakat umum.

Dokter spesialis kedokteran olahraga ini yakin RSON berpotensi menjadi pusat rujukan tertinggi untuk kasus - kasus gangguan kesehatan akibat olahraga. Karenanya, para dokter spesialis olahraga  merasa memiliki tanggungjawab untuk membantu RSON, supaya bisa menjadi   rujukan nasional. Dengan demikian semakin banyak pasien berobat ke poli kedokteran olahraga.

Kendalanya ? Poli terintegrasi kedokteran olahraga ini baru dibuka. Yang baru merasakan pelayanan poli ini adalah para elit atlet. Sedangkan masyarakat luas masih awam terhadap poli ini. Tugas kita semua untuk lebih mensosialisasikan RSON kepada kalangan olahraga dan masyarakat umum.

Bagaimana agar semakin banyak pasien berobat ke rumah sakit ini ?.  Menurut dokter Tim Persija sejak 2017 ini, kuncinya RSON harus meningkatkan kepercayaan pasien atlet ataupun masyarakat. Mereka harus diyakinkan bahwa rumah sakit ini dapat memberikan pelayanan medis sesuai kebutuhan atlet dan masyarakat. Atlet pasti butuh RSON.

Karena atlet terpapar stresor yang terus menerus selama berlatih dan bertanding. Sehingga bila ada kepercayaan lebih dalam terhadap RSON, maka ketika sakit langsung teringat dengan rumah sakit ini. Selama ini cabor - cabor punya rujukan tersendiri. Bahkan bisa merujuk atletnya untuk berobat  ke Filipina atau Singapura. Padahal pada dasarnya layanan itu mampu lakukan  di RSON. Kita juga perlu memikirkan memberikan pelayanan kesehatan untuk atlet paska pensiun.

Karena rumah sakit ini terutama melayani atlet, maka dokter spesialis kedokteran olahraga  wajib memikirkan masa depan karir atlet, saat menentukan diagnosa. Artinya harus adil menentukan diagnosa ke atlet demi masa depan karir atletnya. Misalnya atlet cedera. Dokter tentu ingin menyarankan supaya atlet istirahat dulu untuk menyembuhkan cederanya. Masalahnya, kalau istirahat terlalu lama, latihan tertunda, akan menghambat prestasi atlet. Dokter diharapkan dapat memikirkan solusi dari sisi kepentingan atlet. Intinya ikut memikirkan masa depan karirnya sebagai atlet. Karenanya, saat membuat diagnosa, dokter spesialis kedokteran olahraga, pelatih dan atlet duduk bersama untuk membuat keputusan cara pengobatannya.  Inilah yang disebut layanan terintegrasi yang harus ada di RSON.  Atlet membutuhkan layanan terintegrasi ini.